Widget HTML #1

Taman Nasional Lorentz: Warisan Alam Dunia (1999)

Taman-Nasional-Lorentz:-Warisan-Alam-Dunia-(1999)

Taman Nasional Lorentz yang terletak di Provinsi Papua, memiliki luas 2,35 juta ha. TN Lorentz menjadi kawasan lindung terbesar di Asia Tenggara.

Nama Lorentz berasal dari nama penjelajah alam Belanda Hendrikus Albertus Lorentz, yang pernah melakukan ekspedisi pada tahun 1909. 

TN Lorentz membentang lebih dari 150 km dari pegunungan Cordillera pusat Irian Jaya di utara hingga Laut Arafura di selatan dan meliputi Puncak Cartenz 4.884 mdpl yang adalah puncak tertinggi di Asia Tenggara. 

Terletak di titik pertemuan dua lempeng benua, TN Lorentz memiliki bentukan geologi yang kompleks yang terdiri dari formasi pegunungan aktif dan daerah es salju abadi. 

TN Lorentz juga mempunyai kandungan fosil yang memberikan bukti evolusi kehidupan di New Guinea, spesies endemik dan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. 

Taman-Nasional-Lorentz:-Warisan-Alam-Dunia-(1999)

Lorentz adalah satu-satunya kawasan lindung di dunia yang menggabungkan transek ekologis berkelanjutan dari pegunungan yang tertutup salju sampai ke ekosistem laut tropis, termasuk lahan basah dataran rendah. 

Setelah menjadi Taman Nasional Indonesia pada tahun 1997, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan LSM World Wide Fund for Nature Indonesia selanjutnya mendaftarkan dossier inskripsi TN Lorentz sebagai Warisan Alam Dunia UNESCO pada 7 Desember 1998. 

Pada tanggal 4 Desember 1999, UNESCO akhirnya menetapkan Taman Nasional Lorentz sebagai Warisan Alam Dunia UNESCO yang diharus dilindungi dan dilestarikan. 

Taman-Nasional-Lorentz:-Warisan-Alam-Dunia-(1999)

UNESCO menilai bahwa TN Lorentz memiliki ekosistem yang komplit mulai dari pegunungan es, hutan pegunungan, rawa hingga laut dan merupakan habitat alami hutan purba (nothofagus). 

Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya suku setempat.

Lorentz memiliki tiga puluh empat (34) tipe vegetasi, sekitar 123 spesies mamalia yang tercatat, (80% dari total fauna mamalia di Papua) seperti landak paruh pendek (Tachyglossus aculeatus), dan landak paruh panjang (Zaglossus bruijinii) endemik New Guinea. 

Taman-Nasional-Lorentz:-Warisan-Alam-Dunia-(1999)

Selain menjadi rumah bagi 45 spesies burung dan 9 spesies burung endemik, TN Lorentz juga menjadi kediaman tujuh suku tradisional yaitu suku Amungme (Damal), Dani Barat, Dani Lembah Baliem, Moni dan Nduga yang tinggal di dataran tinggi, dan kelompok suku di dataran rendah seperti suku Asmat, Kamoro dan Sempan. 

Taman-Nasional-Lorentz:-Warisan-Alam-Dunia-(1999)

Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern. 

Kebudayaan suku pedalaman Papua tersebut diperkirakan telah berumur 30 ribu tahun.

Salam Lestari!

Post a Comment for "Taman Nasional Lorentz: Warisan Alam Dunia (1999)"